Apakah tak tersayat hati
Jika alam ini dengan pelahan atau cepat menuai rusak
Apakah tak teriris pedih mendengar tuduhan
Jika kemiskinan menyumbang hancurnya alam
Padahal sang raksasa lebih tega berbuat semaunya
Apakah aku mulai menghitung keringat
Hanya untuk sedikit kebaikan jagat
Padahal sudah semestinya kewajiban umat
Harusnya aku ikhlas
Layaknya sang nabi membimbing insani
Layaknya sang sufi mendamba Ilahi
Layaknya sang hanif mencari hakiki
Aku tidak sedang membuat definisi
Aku tidak sedang membedakan
Aku hanya mengukur sektan diri
Apakah layak rasa cintaku terhadap alam
me lazuardi
harmoni
aku mendamba manusia dengan alam hidup dalam harmoni
sperti sabda Ilahi lewat Muhammad Sang Nabi
layaknya Soe Hok Gie mencintai alam dan negri ini...
sperti sabda Ilahi lewat Muhammad Sang Nabi
layaknya Soe Hok Gie mencintai alam dan negri ini...
Sunday, June 22, 2008
sejatinya cinta (hari bumi)
Hari bumi dah lama lewat. tapi kupikir tiap hari adalah hari bumi, seperti tiap hari adalah juga hari ibu.
Ini puisi lama tentang bumi. Pernah kubacain waktu rangkaian peringatan hari bumi yg diadain temen2 unit selam UGM alias Unyil di Jogja.
Waktu akhir acara, seseorang - kayanya si mahasiswa - pengen minta puisi itu, tp aku gak sempat kasih, orang nulisnya di kertas corat coret spontan aja. tapi dah pernah kutulis,jd waktu it kepikiran mo dibacain, jd kuinget2 trus kutulis d.
Malamnya aku dan bbrp anak unyil makan di lesehan sekitar kampus. Pas lagi makan aku gak ngliat ada pengamen masuk. Satu seingetku bawa gitar dan satu mulai berdeklamasi. Gak taunya yg dibacain mirip2 puisiku acara tadi paginya. Pas aku menoleh untuk ngliat siapa yg ngamen, taunya si mahasiswa tadi yang meminta puisiku. Dia kaget juga melihatku, cengar-cengir, kayanya dia grogi, puisinya jadi kacau dan buru2 keluar dari warung lesehan itu, hahaha.
Yah, salah satu pengalaman tak terlupakan, seenggaknya ada yang suka puisiku, atau lebih bagus lagi kl ada yg mau menghayati, hihihi. Bolehlah.
Aku juga bacain puisi ini sambil bawa gitar, harmonika dan makan pinang (kebayang gak ribetnya) waktu hari pendidikan di raja ampat di depan anak2 kecil raja ampat yang lucu-lucu.
==
Aku cuma membayangkan, kadang-kadang trek sepanjang pendakian gunung di beberapa tempat terdapat banyak sampah. Padahal yang naik gunung juga menamakan dirinya pecinta alam. Aku juga melihat dulu kampusku khususnya fakultasku juga gak karuan banyak sampah di got-gotnya. Padahal yang berkumpul di situ juga para intelektual dengan otak yang kadang-kadang berlebih.
Aku gak menghakimi atau menggurui siapa-siapa, secara diriku sendiri juga manusia sekali. Tapi manusia juga bisa lebih baik untuk menghargai dan mencintai alam seperti kita menyayangi orang-orang yang kita cintai. Toh pada akhirnya cinta yang kita petik adalah cinta yang kita tanam. Seperti kata beatles: and in the end... the love you take… is equal to the love you make…
Ini puisinya:
sejatinya cinta (hari bumi)
pecinta sejatilah jika kehadiran cinta dirasakan oleh yang dicinta
pecinta alam sejatilah jika alam merasakan cinta dari sang pecinta
bukan pencari jati dari yang meninggalkan jejak luka pada bumi
seiring bumi lebih dari dicampakkan daripada dicintai
perlakuan apa kita pada bumi
sampah menggunung bergunung-gunung
hutan kerontang tak beda gurun
asap jelaga mendesak mendung
pemanasan global terumbu meraung
eksplotasi menentang hakiki!
sedang lewat Ilahi bumipun bereaksi
jika cinta bumipun cinta
jika benci bumipun benci
sejatikah cintaku
sementara memikirkan bumipun tangan ini tak pernah lepas dari asap menyala
sesak nafas bumi apa tak kurasa
sejatikah cintaku?
me lazuardi
Ini puisi lama tentang bumi. Pernah kubacain waktu rangkaian peringatan hari bumi yg diadain temen2 unit selam UGM alias Unyil di Jogja.
Waktu akhir acara, seseorang - kayanya si mahasiswa - pengen minta puisi itu, tp aku gak sempat kasih, orang nulisnya di kertas corat coret spontan aja. tapi dah pernah kutulis,jd waktu it kepikiran mo dibacain, jd kuinget2 trus kutulis d.
Malamnya aku dan bbrp anak unyil makan di lesehan sekitar kampus. Pas lagi makan aku gak ngliat ada pengamen masuk. Satu seingetku bawa gitar dan satu mulai berdeklamasi. Gak taunya yg dibacain mirip2 puisiku acara tadi paginya. Pas aku menoleh untuk ngliat siapa yg ngamen, taunya si mahasiswa tadi yang meminta puisiku. Dia kaget juga melihatku, cengar-cengir, kayanya dia grogi, puisinya jadi kacau dan buru2 keluar dari warung lesehan itu, hahaha.
Yah, salah satu pengalaman tak terlupakan, seenggaknya ada yang suka puisiku, atau lebih bagus lagi kl ada yg mau menghayati, hihihi. Bolehlah.
Aku juga bacain puisi ini sambil bawa gitar, harmonika dan makan pinang (kebayang gak ribetnya) waktu hari pendidikan di raja ampat di depan anak2 kecil raja ampat yang lucu-lucu.
==
Aku cuma membayangkan, kadang-kadang trek sepanjang pendakian gunung di beberapa tempat terdapat banyak sampah. Padahal yang naik gunung juga menamakan dirinya pecinta alam. Aku juga melihat dulu kampusku khususnya fakultasku juga gak karuan banyak sampah di got-gotnya. Padahal yang berkumpul di situ juga para intelektual dengan otak yang kadang-kadang berlebih.
Aku gak menghakimi atau menggurui siapa-siapa, secara diriku sendiri juga manusia sekali. Tapi manusia juga bisa lebih baik untuk menghargai dan mencintai alam seperti kita menyayangi orang-orang yang kita cintai. Toh pada akhirnya cinta yang kita petik adalah cinta yang kita tanam. Seperti kata beatles: and in the end... the love you take… is equal to the love you make…
Ini puisinya:
sejatinya cinta (hari bumi)
pecinta sejatilah jika kehadiran cinta dirasakan oleh yang dicinta
pecinta alam sejatilah jika alam merasakan cinta dari sang pecinta
bukan pencari jati dari yang meninggalkan jejak luka pada bumi
seiring bumi lebih dari dicampakkan daripada dicintai
perlakuan apa kita pada bumi
sampah menggunung bergunung-gunung
hutan kerontang tak beda gurun
asap jelaga mendesak mendung
pemanasan global terumbu meraung
eksplotasi menentang hakiki!
sedang lewat Ilahi bumipun bereaksi
jika cinta bumipun cinta
jika benci bumipun benci
sejatikah cintaku
sementara memikirkan bumipun tangan ini tak pernah lepas dari asap menyala
sesak nafas bumi apa tak kurasa
sejatikah cintaku?
me lazuardi
Monday, June 2, 2008
Aku masih mencintaimu
Aku tulis ini kepadamu
Tentu saja dengan segenap cinta
Duhai dikau
Yang membuatku benci tapi rindu
Yang membuatku malu tapi juga bangga
Yang membuatku jengah tapi juga nafsu
Yang membuatku gemas tapi juga geregetan
Yang membuatku marah tapi juga tak berlalu
Yang membuatku muak tapi juga tak berpaling
Yang membuatku sedih tapi juga tertawa
Yang membuatku tertawa tapi juga miris
Yang membuatku miris hingga menangis
Yang membuatku menangis dan bagaimana mau berbuat apa
Pergulatan ini selalu berujung tanya
Dengan segala kelebihan dan kekuranganmu
Tak bisakah sikapmu seelok parasmu
Oh, Indonesia negriku
Aku masih mencintaimu...
me lazuardi
Aku tulis ini kepadamu
Tentu saja dengan segenap cinta
Duhai dikau
Yang membuatku benci tapi rindu
Yang membuatku malu tapi juga bangga
Yang membuatku jengah tapi juga nafsu
Yang membuatku gemas tapi juga geregetan
Yang membuatku marah tapi juga tak berlalu
Yang membuatku muak tapi juga tak berpaling
Yang membuatku sedih tapi juga tertawa
Yang membuatku tertawa tapi juga miris
Yang membuatku miris hingga menangis
Yang membuatku menangis dan bagaimana mau berbuat apa
Pergulatan ini selalu berujung tanya
Dengan segala kelebihan dan kekuranganmu
Tak bisakah sikapmu seelok parasmu
Oh, Indonesia negriku
Aku masih mencintaimu...
me lazuardi
Subscribe to:
Comments (Atom)